Welcome My Blog ----- http://arman85.blogspot.com/ ------ Follow My Blog SEMOGA BLOG INI BERMANFAAT UNTUK ANDA ---- BLOGER YANG BAIK POST KOMEN YACH
English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Tampilkan postingan dengan label AGAMA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AGAMA. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 Oktober 2012

Sejarah Turunnya Al'quran

Di bulan suci Ramadhan, seperti biasa setiap malamnya saya melaksanakan shalat tarawih di mesjid Al-Ikhlas yang berada tidak jauh dari rumah. Malam itu, ustadz yang mengisi kultum di mesjid tersebut menceritakan tentang asal mula turunnya Al Quran. Posting berikut ini adalah sedikit resume yang saya buat setelah mendapatkan kultum dari Ustadz tersebut.
Al Quran diturunkan oleh Allah kepada nabi Muhammad SAW melalui perantara malaikat Jibril. Al Quran terdiri dari 30 Juz, 6666 ayat, 114 surah dan diturunkan setahap demi setahap selama kurang lebih dua puluh tiga tahun.

Al Quran diturunkan kepada nabi Muhammad dengan tiga cara, yaitu pertama malaikat Jibril turun dalam wujud manusianya dan membacakan ayat-ayat Al Quran kepada nabi Muhammad, kemudian beliau mengikutinya. Kedua, adalah Al Quran turun tanpa perantara malaikat Jibril, sehingga tiba-tiba saja ayat-ayat Al Quran tersebut muncul dalam pikiran nabi Muhammad dan yang ketiga adalah Al Quran turun dengan didahului terdengarnya suara gemerincing lonceng yang sangat kuat. Cara terakhir adalah cara yang dirasa nabi Muhammad sangat berat saat menerima wahyu Allah SWT.

Al Quran yang telah diturunkan ini kemudian diajarkan kepada keluarga dan sahabat-sahabat nabi terlebih dahulu sebelum akhirnya disyiarkan secara terang-terangan kepada masyarakat luas. Pada awalnya Al Quran ini hanya dituliskan pada media seadanya saja seperti kulit unta, tulang binatang dan lain-lain, mengingat pada zaman itu belum ditemukan manfaat kertas sebagai media untuk menuliskan Al Quran.

Pada zaman nabi Muhammad, Al Quran tidak diperbolehkan untuk ditulis, melainkan hanya dihafalkan saja di luar kepala baik oleh nabi Muhammad maupun sahabat-sahabatnya. Sementara itu, untuk menjaga kemurnian Al Quran, setiap malam di bulan Ramadhan malaikat Jibril turun ke bumi dan membacakan ayat-ayat Al Quran tersebut dan nabi Muhammad mendengarkannya dengan seksama. Nabi Muhammad sendiri melarang penulisan Al Quran ini dalam media apapun dalam satu kesatuan.

Setelah nabi Muhammad meninggal dunia, tongkat kepemimpinan Islam diberikan kepada kalifah Abu Bakar As syidiq. Pada masa kepemimpinan Abu Bakar ini, orang-orang Islam yang tipis imannya mulai banyak yang meninggalkan Islam. Mereka meninggalkan semua perintah-perintah Allah seperti shalat, puasa dan zakat. Selain itu, bermunculan pula nabi-nabi palsu yaitu orang-orang yang mengaku sebagai penerus nabi Muhammad.

Bayangkan saja, ternyata sejak ratusan tahun yang lalu sudah banyak bermunculan nabi-nabi palsu ke dunia ini. Maka tentu bukan suatu hal yang mengherankan jika sampai posting ini ditulispun masih saja ada orang-orang yang mengaku dirinya adalah nabi. Di Indonesia yang sebagian besar penduduknya muslim ini saja ada banyak kasus kemunculan nabi palsu. Di antaranya Ahmad Mussadeq, Lia Eden dan lain-lain.

Kasus terbaru dan masih hangat adalah masalah aliran Ahmadiyah yang menganggap bahwa Ahmad Mirza adalah nabi penerus nabi Muhammad. Padahal Ahmad Mirza adalah nabi yang diangkat oleh ratu Inggris atas jasa-jasanya memimpin sebagian umat muslim Pakistan untuk berperang melawan muslim-muslim yang memberontak kepada kerajaan Inggris yang saat itu menjajah Pakistan. Ratu Inggris kemudian menyatakan bahwa Ahmad Mirza adalah “Nabi baru” umat Islam yang cinta perdamaian. <---- Tulisan yang dicetak miring adalah tambahan dari penulis sendiri dan bukan merupakan bagian dari kultum.

Kembali lagi ke zaman Kalifah Abu Bakar, dengan munculnya nabi-nabi palsu ini, maka Kalifah Abu Bakar kemudian memerintahkan para sahabat untuk memerangi nabi-nabi palsu dan umat Islam yang tipis imannya itu. Sayangnya, banyak sahabat nabi yang hafal Al Quran dalam rangka menegakkan agama Islam kemudian berguguran satu demi satu.

Melihat hal ini, kemudian Umar bin Khatab menyarankan kepada Kalifah Abu Bakar untuk mengumpulkan ayat-ayat Al Quran dan menuliskannya menjadi satu kitab saja. Awalnya, ide ini ditentang oleh Kalifah Abu Bakar, karena menurut beliau nabi Muhammad sendiri yang melarang penulisan ayat-ayat Al Quran tersebut, namun setelah melalui perdebatan panjang dan demi menegakkan agama Islam, akhirnya Kalifah Abu Bakar pun mengalah. Setelah itu, dibentuklah panitia pengumpulan dan penulisan Al Quran tersebut.

Ayat-ayat Al Quran itu kemudian dikumpulkan dan ditulis ulang oleh Zaid bin Tsabit. Pada masa Kalifah Umar bin Khatab, kitab Al Quran hanya berjumlah lima buah dan disimpan di lima tempat yang berbeda antara lain, Mekkah, Basrah, Madinah, dan disimpan oleh Kalifah Umar sendiri.

Pada era kepemimpinan Utsman bin Affan, beliau berhasil menaklukkan Syria yang terlebih dahulu sudah mengenal kertas sebagai media untuk menulis. “Teknologi baru“ ini kemudian dimanfaatkan untuk memperbanyak kitab Al Quran. Akibatnya, sekarang semua orang dapat membaca, mengkaji dan memperdalam Al Quran dimanapun dan kapanpun juga. Bahkan, pada zaman sekarang Al Quran diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dengan tentu saja tetap menuliskan ayat-ayat asli Al Quran yang masih berbahasa Arab, sehingga kemurnian Al Quran Insya Allah masih terjaga kemurniannya bahkan sampai sekarang sekalipun. Terjemahan yang ada dalam Al Quran ini semata-mata hanya untuk mempermudah umat Islam untuk mempelajari Al Quran.
Sumber : http://al-islams.blogspot.com

Sejarah Penurunan Al' Quran

Antara peristiwa agung dalam sejarah umat Islam ialah turunnya kitab suci al-Quran atau disebut Nuzul al-Quran.Perkara ini dinyatakan dalam al-Quran, melalui firman Allah dalam surah al-Baqarah ayat ke 185 yang bermaksud:
Ramadan yang padanya diturunkan al-Quran, menjadi petunjuk bagi sekelian manusia, dan menjadi keterangan yang menjelaskan petunjuk dan menjelaskan perbezaan antara yang benar dan yang salah.”
FirmanNya dalam ayat pertama surah al-Qadar :
Sesungguhnya Kami telah menurunkan (Al-Quran) ini pada Malam Lailatul-Qadar.
Dalam surah al-Dukhan ayat ke 3 pula Allah s.w.t telah berfirman :
Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Quran itu pada malam yang berkat; (Kami berbuat demikian) kerana sesungguhnya Kami sentiasa memberi peringatan dan amaran (jangan hamba-hamba Kami ditimpa azab).

‘Nuzul’ merupakan perkataan Arab yang memberi makna turun atau berpindah, iaitu berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. ‘Al-Quran’ pula bermaksud bacaan. Ia dikatakan sebagai bacaan kerana al-Quran itu untuk dibaca oleh manusia. Ia juga dikatakan himpunan kerana dalam al-Quran itu terhimpun ayat-ayat yang menjelaskan pelbagai perkara yang meliputi soal tauhid, ibadat, jinayat, muamalat, munakahat dan sebagainya.

Menilai ketiga ayat di atas tiada sebarang pertentangan antara ke tiga ayat di atas . Al-Syeikh Ab Rahman al-Sa’adiy menjelaskan dalam tafsir Taysir al-Karim al-Rahman, ‘malam yang berkat’ yang dinyatakan Allah dalam surah al-Dukhan itu adalah malam yang penuh dengan kebaikan dan rahmat, yang lebih besar keutamaannya dari amalan seribu bulan. Maka Allah SWT telah memilih tarikh turun kalamNya buat pemimpin umat sejagat nabi Muhammad yang penuh dengan kemuliaan itu untuk berlaku pada hari yang mulia iaitu malam al-Qadr itu sendiri
Menurut al-Syeikh Manna’ Qattan dalam Mabahith Fi Ulum al-Quran ke tiga ayat ini secara dasarnya menunjukkan penurunan berlaku pada bulan ramadhan dan secara khususnya ia diturunkan pada malam al-Qadr yang merupakan suatu anugerah Allah buat mereka yang menghidupkan malam-malam pada bulan Ramadhan.

Walaupun umat Islam di Malaysia secara tradisinya menyambut peristiwa Nuzul Al-Quran pada 17 Ramadhan, namun sesungguhnya pendapat yang lebih tepat tentang turunnya al-Quran ialah pada malam Isnin, tanggal 24 Ramadhan bersamaan 13 Ogos 610 M. Ini disebabkan pendapat yang mengatakan berlakunya pada 17 Ramdhan adalah berpandu pada ayat ke 41 dari Surah Al-Anfaal adalah difokuskan kepada perisytiwa perang Badar bukannya al-Quran.
Firman Allah dalam ayat ke 41 surah al-Anfal itu,maksudnya :
"…jika kamu beriman kepada Allah dan apa-apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Nabi Muhammad saw) pada hari Furqan,iaitu di hari bertemunya dua pasukan (diperang Badar, antara muslimin dan kafirin)…"

Menurut sebuah riwayat yang dikemukakan oleh Ibn Kathir dalam tafsirnya dari Ibn Abbas , ayat tersebut merupakan penjelasan tentang hukum pembahagian harta rampasan perang (seperti yang terdapat pada awal ayat tersebut).
" Ketahuilah sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, RasulNya, kerabat-kerabat (Rasul), anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil (orang yang sedang dalam perjalanan)…".

Justeru tarikh yang lebih tepat tentang Nuzul al-Quran adalah pada 24 Ramadhan kerana ia berdasarkan ayat 1 Surah Al-Qadr dan ayat 1-4 Surah Ad-Dukhan yang telah dihuraikan di atas.

Menurut sebuah riwayat oleh Ibn Abbas dan pandangan ini disokong oleh majoriti para mufassirin, Al-Quran yang diturunkan pada malam "Lailatul Qadar" sebagaimana disebut di atas adalah Al-Quran yang turun sekaligus ke "Baitul Izzah" di langit kedunia. Sedangkan Al-Quran yang diturunkan ke bumi dan diterima Rasullullah sebagai wahyu terjadi secara beransur-ansur selama sekitar 23 tahun.
Menurut satu riwayat dari al-Hakim, al-Baihaqiy dan al-nasaei dari Ibn Abbas, beliau menjelaskan dari RasululLah saw bersabda :
Al-Quran diturunkan sekali gus oleh Allah ke langit dunia pada malam al-Qadr kemudian ia diturunkan secara berperingkat dalam masa 20 tahun

Al Quran pula telah diturunkan secara beransur - ansur dalam masa 22 tahun 2 bulan 22 hari atau 23 tahun, 13 tahun di Mekah dan 10 tahun di Madinah . Ayat-ayat dan surah-surah yang diturunkan sebelum peristiwa hijrah dikenai sebagai Makkiyah sedangkan yang diturunkan selepas peristiwa hijrah dikenali sebagai Madaniyyah . Tujuan Allah menurunkan secara beransur-ansur adaah bagi memenuhi objektif-objektif berikut :
v Agar lebih mudah difahami dan dilaksanakan. Orang akan enggan melaksanakan suruhan dan larangan sekiranya suruhan dan larangan itu diturunkan sekaligus dalam kadar yang banyak. Hal ini disebut oleh Bukhari dari riwayat 'Aisyah r.a.
Di antara ayat - ayat itu ada yang nasikh dan ada yang mansukh, sesuai dengan kamaslahatan. Ini tidak dapat dilakukan sekiranya Al Quran diturunkan sekaligus. (Ini menurut pendapat yang mengatakan adanya nasikh dan mansukh)
Turunnya sesuatu ayat sesuai dengan peristiwa - peristiwa yang terjadi akan lebih berkesan dan lebih berpengaruh di hati.
v Memudahkan penghafalan. Orang - orang musyrik yang telah menanyakan mengapa Al Quran tidak diturunkan sekaligus, sebagaimana disebut dalam Al Quran surah Al Furqaan ayat 32 maksudnya :
"……mengapakah Al Quran tidak diturunkan kepadanya sekaligus….?"
Kemudian dijawab di dalam ayat itu sendiri:
"….Demikianlah, dengan (cara) begitu Kami hendak menetapkan hatimu..".
Di antara ayat - ayat yang merupakan jawapan daripada pertanyaan atau penolakan suatu pendapat atau perbuatan, sebagai dikatakan oleh Ibnu 'Abbas r.a. Hal ini tidak dapat terlaksana kalau Al Quran diturunkan sekaligus. Penurunan al-Quran ini pula berlaku dalam berbagai bentuk.
Menurut Safiyurrahman al-Mubarakfuriyy dalam al-Rahiq al-makhtum , Nabi Muhammad s.a.w. telah diwahyukan mengikut pendekatan-pendekatan berikut :
· Menerusi mimpi yang benar ( al-Rukya al-Sadiqah )
Malaikat memasukkan wahyu itu ke dalam hatinya. Dalam hal ini, Nabi s.a.w. tidak melihat sesuatu apa pun, hanya beliau merasa bahawa itu sudah berada di dala, kalbunya. Sebagai contohnya Nabi pernah bersabda mengatakan:
"Ruhul Quddus mewahyukan ke dalam kalbuku bahawa seseorang itu takkan mati sehingga dia menyempurnakan rezkinya yang telah ditetapkan oleh ALlah".
· Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi s.a.w. menyerupai seorang lelaki yang mengucapkan kata-kata kepadanya dan peristiwa seperti ini sering disaksikan oleh para sahabat.
· Wahyu datang kepadanya seperti gemercingnya loceng. Cara inilah yang amat berat dirasakan Nabi s.a.w. Kadang-kadang pada keningnya terdapat peluh, meskipun turunnya wahyu itu di musim dingin yang sangat. Ada ketikanya, unta beliau terpaksa berhenti dan duduk kerana merasa amat berat. Diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit:
" Aku adalah penulis wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah. Aku lihat Rasulullah ketika turunnya wahyu itu seakan-akan diserang demam yang kuat dan peluhnya bercucuran seperti permata. Kemudian setelah selesai turunnya wahyu, barulah beliau kembali seperti biasa".
· Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi s.a.w. dalam rupanya yang sebenar sebagaimana yang terdapat di dalam surah An- Najm ayat 13 & 14 :
"Sesungguhnya Muhammad telah melihatnya pada kali yang lain (kedua). Ketika (ia berada) di Sidratulmuntaha".

Malaikat mewahyukan kepada Nabi dari atas langit seperti yang berlaku dalam peristiwa al-Isra` wal Mikraj . Sesetengah ulamak berpendapat baginda saw juga pernah berbicara secara langsung dengan Allah dan menerima wahyu seperti yang berlaku pada Nabi Musa.Perkara ini merupakan suatu khilaf di kalangan para ulamak.

Al-Quran mempunyai beberapa fungsi penting, diantaranya ialah:
Pertama: Sebagai Mukjizat Nabi Muhammad SAW.
Al-Quran merupakan bukti kenabian dan kerasulan Nabi Muhammad saw, sekaligus ianya menjadi bukti bahawa Al-Quran merupakan firman Allah SWT, bukannya ucapan atau ciptaan nabi Muhammad saw sendiri. Rasullulah saw telah menjadikan Al-Quran sebagai senjata bagi menentang orang-orang kafir Quraisy. Dan kita dapati bahawa mereka sememangnya tidak mampu menghadapinya, padahal mereka mempunyai kemahiran menggubah bahasa-bahasa yang indah dalam ucapan dan sajak-sajak mereka. Al-Quran secara prisipnya telah mengemukakan cabaran kepada bangsa Arab menerusi tiga peringkat iaitu :

Peringkat pertama. Mencabar mereka dengan keseluruhan Al-Quran dalam uslub umum yang meliputi orang Arab sendiri dan orang lain, manusia malah jin, dengan cabaran yang mengalahkan dan menjatuhkan mereka secara padu sebagaimana firmanNya.
"Katakanlah: Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebahagian mereka menjadi pembantu bagi sebahagian yang lain." (17 : 88)

Peringkat kedua. Mencabar dengan sepuluh surah sahaja daripada Al-Quran. Sebagaimana firmanNya:
“Bahkan mereka mengatakan "Muhammad telah membuat-buat Al-Quran." Katakanlah: Jika demikian, maka datangkanlah sepuluh surah yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar. Jika mereka (yang kamu seru itu) tidak menerima seruanmu, ketahuilah, sesungguhnya Al-Quran itu diturunkan dengan ilmu Allah" (11 : 13-14)

Peringkat ketiga. Mencabar mereka hanya dengan satu surah daripada Al-Quran sahaja. Sebagaimana firmanNya:
"Atau (patutkah) mereka mengatakan: Muhammad membuat-buatnya (Al-Quran). (Kalau benar yang kamu katakan itu), cubalah datangkan satu surat seumpamanya" (TTQ 10 : 38)
Dan cabaran ini diulangi di dalam firmanNya:
"Dan jika kamu tetap dalam keadaan ragu tentang Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad saw), maka buatlah satu surat saja yang semisal Al-Quran itu…" (2 : 23 )

Kedua: Sebagai Sumber Hukum Dan Aturan Hidup.
Ayat-ayat Al-Quran mengandungi peraturan tentang hukum-hukum siyasah negara , sosial , pendidikan , pengadilan , akhlak dan sebagainya. Semua aturan dan hukum ini wajib dijadikan sebagai pandangan hidup bagi seluruh kaum muslimin dan umat manusia untuk mengatasi semua permasalahan hidup yang dihadapinya. Sememangnya penyelesaian yang diberikan oleh syariat Islam adalah merupakan penyelesaian yang sebenar-benarnya kearan ia satu-satunya perundangan yang dapat memenuhi fitrah manusia itu sendiri. Kemampuan syariat Islam dalam menyelesaikan pelbagai permasalahan kehidupan manusia inilah yang akan menjadikan Al-Quran sebagai mukjizat abadi yang paling menonjol di muka bumi.

WAALLAHUA'LAM

Fungsi dan Pentingnya Agama Buat Manusia

Jika ada pertanyaan : Manfaat fungsi dan pentingnya Agama buat manusia..?
Jawaban saya pribadi adalah: untuk menjadi lebih baik dan lebih sempurna dalam segala hal.

Agama berhubungan dengan sesuatu yang tidak bisa di buktikan secara rasioa ,yaitu yang bernama "Iman" , dan memang rasio bukan segalanya , jika manusia selalu terikat dengan rasionalitas , maka bagaimana akan mencapai yang namanya kebahagiaan dan menikmati makna dari hidup adalah sejengkal, dan manusia sendiri merupakan produk dari irasionalitas yaitu emosional (hubungan intim bapak-ibu).

Lebih lanjut tentang esensi agama : Arti agama dan Tuhan

Dari segi pragmatisme, seseorang itu menganut sesuatu agama adalah disebabkan oleh fungsinya. Bagi kebanyakan orang, agama itu berfungsi untuk menjaga kebahagiaan hidup. Tetapi dari segi sains sosial, fungsi agama mempunyai dimensi yang lain seperti apa yang diuraikan di bawah:

* Memberi pandangan dunia kepada satu-satu budaya manusia.
Agama dikatakan memberi pandangan dunia kepada manusia karena ia sentiasanya memberi penerangan kepada dunia(secara keseluruhan), dan juga kedudukan manusia di dalam dunia. Penerangan dalam masalah ini sebenarnya sulit dicapai melalui indra manusia, melainkan sedikit penerangan daripada falsafah. Contohnya, agama Islam menerangkan kepada umatnya bahwa dunia adalah ciptaan Allah(s.w.t) dan setiap manusia harus menaati Allah(s.w.t). begitu juga untuk yang beragama lain dengan kepercayaan kepada Tuhan yg di miliki.

* Menjawab pelbagai pertanyaan yang tidak mampu dijawab oleh manusia.
Sebagian pertanyaan yang sentiasa ditanya oleh manusia merupakan pertanyaan yang tidak terjawab oleh akal manusia sendiri. Contohnya pertanyaan kehidupan setelah mati, tujuan hidup, soal nasib dan sebagainya. Bagi kebanyakan manusia, pertanyaan-pertanyaan ini sangat menarik dan perlu untuk menjawabnya. Maka, agama itulah fungsinya untuk menjawab soalan-soalan ini.

* Memberi rasa kekitaan kepada sesuatu kelompok manusia.
Agama merupakan satu faktor dalam pembentukkan kelompok manusia. Ini adalah karena sistem agama menimbulkan keseragaman bukan saja kepercayaan yang sama, melainkan tingkah laku, pandangan dunia dan nilai yang sama.

* Memainkan fungsi peranan sosial.
Kebanyakan agama di dunia ini menyarankan kepada kebaikan. Dalam ajaran agama sendiri sebenarnya telah menggariskan kode etika yang wajib dilakukan oleh penganutnya. Maka ini dikatakan agama memainkan fungsi peranan sosial.